Aku tidak tahu dan terlambat menyadari bahwa kebahagiaan yang besar selalu membawa ujian yang besar pula, dan aku selalu gagal menghadapinya.
Apa kau tahu bahwa ketika kau membuka aib seseorang maka oleh tuhan aibmu juga akan dibuka juga olehnya. Itulah yang yang terjadi padaku.
Seumur hidupku aku selalu membenci ayahku, aku benci ketika dia memukuli ibuku, aku benci ketika dia memukuliku, aku benci ketika dia berkata kasar bahkan aku benci ketika dia berpura-pura berkata lembut, aku benci semua tentangnya. Tapi aku pun tak memungkiri bahwa hidupku ada karenanya, bahwa aku sukses karenanya, bahwa aku hidup terjamin dan mapan karena nya.
Kemarahan-kemarahan yang ada dalam diriku selalu terpendam dan akhirnya meledak. Ya, meledak, tak hanya membantah kata-katanya aku pun melawannya, secara fisik, benar-benar adu fisik. Sebagian hatiku sangat menyesal karena aku telah durhaka, penyesalanku tak bisa digambarkan hingga sesak, hingga aku tak bisa merasakan diriku lagi, hingga hatiku serasa tak mampu membendungnya lagi.
Hari dimana aku melawan ayahku merupakan hari kehancuranku, secara mental dan spiritual, aku sangat ketakutan akan dosaku, hukumanku, akhiratku. Aku telah melakukan berbagai macam dosa dan berusaha untuk bertaubat tetapi dosa besar baru telah mencemariku lagi.
Satu-satunya hal yang masih mempertahankan kewarasanku adalah anak-anakku. Ketakutanku yang paling utama adalah aku mati sebelum anak-anakku menjadi mandiri. Itu karena aku tak bisa mengandalkan suamiku, sama sekali tak bisa mengandalkannya. Dan cerita tentang suamiku akan berada pada cerita ku berikutnya.